Download Free FREE High-quality Joomla! Designs • Premium Joomla 3 Templates BIGtheme.net
Home / Urbanesia / Cinta dan Buku ‘Simposium’-nya Plato
Plato

Cinta dan Buku ‘Simposium’-nya Plato

Sepanjang yang saya tahu, catatan sejarah mengenai pembahasan tentang “cinta” yang disajikan tertulis pertama kali adalah buku karya Plato berjudul “Symposium” (sekitar 300 tahun sebelum Masehi).

Plato berpandangan bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan diskusi. Karena itu semua karya Plato bentuknya adalah dialog. Begitu juga dengan “Symposium”, dia menceritakan dialognya berbagai peserta, walaupun sebenarnya dengan itu dia menyampaikan pesan-pesannya. Hakekat cinta, menurutnya, adalah perasaan “ketertarikan dan hasrat atau nafsu” untuk menyatu, walaupun kita tidak tahu dari mana asal usul perasaan itu (“Attraction and desire”).

Sebelum kita gambarkan isi buku Plato tersebut, mungkin ada baiknya menyimpang sedikit, yaitu masalah istilah mengenai berbagai format diskusi, yang di Indonesia sekarang ini sering bercampur aduk.

Lokakarya (“workshop”) artinya “bengkel” yang kegiatannya adalah “bongkar pasang”. Karena itu dalam “workshop”, yang dibahas adalah kertas kerja (“working paper”) yaitu makalah ataupun hasil penelitian yang belum jadi, tapi “masih dikerjakan”, gunanya untuk memperoleh masukan lalu diperbaiki menjadi karya tulis yang utuh.

Seminar adalah format diskusi yang membahas karya tulis yang sudah jadi, berupa buku maupun makalah. Artinya proses bongkar-pasang itu sudah dilampaui sehingga isi karya tulis itu sudah menjadi pandangan si penulis. Karena itu jika berupa makalah, karya tulis itu disebut “position paper”.

Diskusi Panel. Di bawah moderator yang menguasai tema pertemuan, semua narasumber duduk di depan, dan berdebat di antara mereka sendiri. Semua hadirin/peserta hanya menonton dulu. Barulah setelah moderator menganggap cukup, kesempatan lalu diberikan kepada hadirin untuk menanggapi atau tanya jawab.

FGD (Focus Group Discussion). Sepanjang yang saya tahu, ini merupakan diskusi yang terpusat pada tema tertentu yang sangat khusus, dengan peserta yang amat kecil jumlahnya (sekitar 12 orang). Pesertanya adalah orang-orang yang berpengalaman, baik dalam hal teori, maupun praktek mengenai tema khusus itu. Syarat lainnya adalah para pesertanya itu tidak saling mengenal. Asumsinya adalah, karena tak saling kenal, mereka akan mengemukakan pandangannya secara terbuka dan jujur. Ini adalah asumsi yang mungkin benar di dalam masyarakat Barat. Di Indonesia, kalau tak saling kenal, orang justru enggan untuk terus terang. Jumlah peserta yang kecil itu dimaksudkan agar semua peserta memperoleh kesempatan berbicara, dan waktunya cukup.

Symposium
Symposium berbeda dari format-format yang lain, seperti tersebut diatas, dan belajar dari “symposium”nya Plato, ciri utamanya adalah “brain storming” dan semua peserta seharusnya turut berbicara. Tidak harus ada narasumber, dan tidak harus ada kesimpulan. Karena itu marilah kita lihat sepintas isi buku Plato itu.

Perlu dicatat lebih dulu bahwa arti harfiah dari kata ‘symposium’ adalah “pesta minum-minum bersama untuk merayakan sesuatu”, dan memang buku Plato ini menceritakan tentang pesta minum bersama untuk merayakan seorang sastrawan bernama Agathon yang berhasil memperoleh hadiah pertama dalam suatu kejuaraan sastra (semacam “syukuran”). Namun para peserta pertemuan itu akhirnya menghendaki agar pertemuan dilanjutkan dengan berdiskusi dengan tema “cinta”. Para pelayan minuman, dan para penabuh musik diminta keluar ruangan sehingga yang tinggal untuk berdiskusi adalah para filosof dan sastrawan.

Diantara para peserta yang menyampaikan pandangan-pandangannya mengenai “cinta”, ada satu orang yang pidatonya menarik perhatian para hadirin, yaitu yang bernama Aristophanes. Hampir semua peserta memang berbicara dan pada umumnya menganggap bahwa “cinta” adalah “Dewa Agung” (The Great God). Aristhophanes menceritakan sebuah dongeng bahwa semula, manusia itu berbentuk bulat dengan empat tangan dan empat kaki. Tetapi kemudian dewa Zeus membelahnya menjadi dua. Karena itu, “Cinta” adalah suatu hasrat kerinduan dari masing-masing belahan badan tersebut untuk “re-uni”, bersatu kembali dengan pasangannya. Gambaran dari Aristophanes ini kemudian dikoreksi dan sekaligus dikembangkan oleh Socrates. Atas dasar ajaran yang berasal dari seorang wanita bijak bernama Diotima, Socrates menyatakan bahwa “Cinta” itu bukan “Dewa”, melainkan hasrat dan upaya manusia untuk menghindari kematian. Pada tingkatan paling rendah, wujudnya adalah “reproduksi fisik” (Kelahiran adalah lawan dari Kematian). Pada tingkatan yang lebih tinggi adalah penyatuan secara cendekia dengan “keindahan mutlak”. Belum sempat Socrates menjelaskannya lebih lanjut tentang hal ini, seorang yang sedang mabuk bernama Alcibiades masuk ruangan diskusi dan bernyanyi memuji-muji Socrates, dan diikuti oleh sejumlah pemabuk lainnya, sehingga membingungkan. Maka diskusi tersebut lalu diakhiri, tanpa kesimpulan apa-apa. (Dari sinilah maka, pengertiannya sekarang, symposium adalah forum diskusi yang tidak menghasilkan kesimpulan). Apa kesimpulan Anda tentang cinta? Hmmm harus didiskusikan kiranya? (*)

About admintopeng

Toko Buku dan Galeri Seni Topeng Kayu adalah toko buku menjual buku-buku terpilih, bermutu dari para penulis dengan reputasi baik dalam cabang-cabang penulisan. Topeng Kayu juga menyediakan bacaan tentang buku, sastra dan literature lain ditulis dengan gaya cergas dan enak dibaca untuk memenuhi kebutuhan referensi dan bacaan bermutu keluarga Indonesia. Terimakasih telah mengunjungi laman kami.

Check Also

Clara Ng

Kunci Sukses Menulis Novel Clara Ng

Menurut pengarang Clara Ng, kunci sukses utama dalam menulis novel adalah membuat plot yang matang. …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *