Download Free FREE High-quality Joomla! Designs • Premium Joomla 3 Templates BIGtheme.net
Home / Intermezzo / Membaca Menimbang Karya Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya-Ananta_topengkayu

Membaca Menimbang Karya Pramoedya Ananta Toer

Munculnya kembali Pramoedya dalam kehidupan sastra di Indonesia pada tahun 1980 tentu saja amat menarik perhatian. Pertama karena ia merupakan tokoh sastrawan lama, seangkatan dengan Achidat Kartamihardja dan Idrus, yang pada dasawarsa 1970-an ini mulai menulis kembali. Nama yang hampir 30 tahun menjadi mitos dalam sejarah sastra Indonesia ini dengan sendirinya bagaikan “mayat yang hidup kembali”. Mengagetkan. Kedua, karena sebagai tokoh budayawan yang tersangkut masalah politik dan tahun 1979 dibebaskan setelah lima belas tahun ditahan, tentu saja menarik perhatian umum, lebih-lebih sebagai tokoh demikian ia menulis buku.

Tak pelak lagi harus dikatakan bahwa Pramoedya adalah pengarang Indonesia yang besar, sejarah tak bisa menutupi kenyataan ini dan tak bisa disembunyikan. Kebesarannya sebagai sastrawan telah dibuktikannya dengan begitu banyak buku berupa novel dan cerita pendek serta biografi. Dilihat dari segi produktivitas saja ia merupakan sastrawan yang paling banyak menulis. Tentu saja ini dalam ukuran sastra, sebab terlalu banyak pengarang populer yang melebihi produktivitas Pram. Dan bobot sastranya dari kebanyakan bukunya telah banyak dipuji para kritikus.

Keterlibatannya dalam partai yang kini dilarang menyebabkan ia bernasib kurang menguntungkan dalam sastra Indonesia. Banyak karya-karya sastranya yang dilarang beredar. Padahal banyak dari karya-karyanya itu yang justru menguntungkan pembinaan mental nasionalisme bangsa. Novel-novel perjuangannya yang melukiskan nasib orang-orang Indonesia pada sekitar revolusi, seperti Di Tepi Kali Bekasi, Keluarga Gerilya, Subuh, Mereka yang Dilumpuhkan dan sebagainya jauh dari faham yang sekarang dilarang di Indonesia. Dan saya kira Pram sendiri pada waktu itu belum memikirkan faham politik seperti rata-rata kawan sastrawannya, kecuali hanya nasionalisme. Pelarangan buku-buku Pram yang ditulis sekitar tahun 1950-an sekarang ini memang agak merugikan dilihat dari pendidikan perkembangan sastra kita. Beberapa karya penting dalam sastra Indonesia terpaksa “disembunyikan” dari anak didik. Sedangkan di Malaysia, yang mayoritas beragam Islam, masih mau menerima karya-karya Pram yang lama itu sebagai bacaan anak-anak sekolah mereka. Karya-karya itu dikhawatirkan membawa ideologi yang bertentangan dengan kepercayaan mereka.

pramoedyaJadi dalam pembicaraan ini saya tidak menyembunyikan kenyataan sejarah bahwa Pramoedya Ananta Toer pernah hadir dalam kasanah sastra Indonesia Modern. Karena hadir, ada dan menyolok, ia harus dibicarakan juga. Mungkin ia “tabu” dari segi politik, tetapi kamus bahasa juga tidak bisa menyembunyikan kata-kata tabu masyarakat. Dua novelnya yang terakhir, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, pernah terbit dan beredar di Indonesia. Meskipun kedua buku itu akhirnya juga dilarang beredar dan dibaca di Indonesia, tetapi sesaat kehadirannya telah tercatat dalam sejarah sastra dasawarsa 1970-an ini.

Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang prosais kita yang besar, kalau tidak yang paling besar. Kemampuannya menulis dengan nafas panjang (Mereka Yang Dilumpuhkan, misalnya, terdiri dari dua jilid tebal-tebal, lebih dari 500 halaman) telah lama menjadi rekor di Indonesia. Masalah-masalah yang dikupasnya adalah masalah-masalah dasar manusia: kecintaannya pada keluarga dan bangsa, kebenciannya pada kebatilan sesama, kebahagiaan dan cacad-cacadnya. Semua itu dia tuangkan dalam bentuk fiksi yang padat, kaya dengan pengalaman manusia, menarik dan mengharu biru rasa kemanusiaan kita.

Semua novel-novelnya ditulis seolah-olah dari endapan yang menahun dan meletup keluar dalam tenaga dan kekayaan yang menakjubkan. Saya kira ini pengaruh dari riwayat hidupnya yang memang seringkali keluar masuk tahanan. Novel-novel revolusinya kebanyakan ditulisnya pada waktu ia ditahan oleh pemerintah Belanda selama revolusi. Dalam kamar tahanan itu ia banyak bergaul dengan sesame tahanan pejuang. Dari kisah-kisah hidup mereka dan kisah hidupnya sendiri yang basah kuyup dengan revolusi didapatkan bahan renungan yang tak kunjung habis. Tidak heran kalau banyak karyanya yang berdasarkan kenyataan sesungguhnya. Pengalaman yang dahsyat dan kaya ini menyebabkan karya-karyanya muncul secara kuat dan otentik dan sekaligus membentuk gaya kepengarangan Pram tahun-tahun 1950-an. Pengaruh ini sekitar tahun 1955 mulai luntur. Karya-karyanya yang menyangkut peristiwa revolusi mulai jarang keluar. Tema baru muncul, yakni kehidupan sosial dalam masa demokrasi liberal di Indonesia. Kebobrokan politik dan sosial pada zaman itu tercermin dari beberapa karyanya seperti Midah Si Manis Bergigi Emas, Korupsi dan sebagainya. Kebanyakan karya-karya ini tidak sekuat karya-karya tentang revolusi. Dan mengalami kemunduran sekitar tahun 1958 misalnya terlihat dalam novelnya Suatu Peristiwa di Banten Selatan. Bahwa ini karya propaganda amat nampak. Dengan sendirinya segaran dan keotentikan gaya Pram hilang. Setelah itu ia jarang menerbitkan karya lagi sampai ditahan setelah peristiwa G.30.S.

Selama dalam tahanan yang lama inilah (sekitar lima belas tahun) rupanya pengendapan bahan dimulai lagi. Pram menderita dan bergulat dengan bahannya. Dan ekspresinya membludag dalam beberapa naskah yang sayang hanya sempat diterbitkan dua novelnya saja di Indonesia. Dalam novel-novel setelah penahanannya yang lama itu muncul begitu banyak watak dan peristiwa. Dan semuanya dilukiskan secara lengkap serta padat. Hanya gaya pengucapannya sudah lain sama sekali dengan gaya-gaya Pram sebelumnya. Bahasa pengucapan Pram dalam karya-karyanya yang terakhir itu sedikit populer dengan bumbu-bumbu humor. Novel-novel ini begitu lain dan melulur karya-karya lain dalam dasawarsa 70-an ini. Ketokohannya sebagai sastrawan berpengalaman dan besar muncul agak mengagetkan. Namun segera disinyalir oleh pemerintah bahwa rangkaian empat novelnya mengandung unsur-unsur faham politik yang terlarang di Indonesia. Sebelum empat karyanya muncul secara lengkap, dua novelnya yang terbit segera dilarang beredar di Indonesia.

Pramoedya lahir 6 Februari 1925 di Blora. Pendidikan formalnya hanya Taman Siswa, tetapi lantas ikut berbagai kursus. Pada waktu revolusi ia menjabat perwira pers dengan pangkat letnan dua. Kemudian ia menjabat sebagai redaktur Balai Pustaka dan berbagai penerbitan lain. Terakhir sebagai wakil Ketua Lembaga Sastra LEKRA sebelum tahun 1965. Pram beberapa kali keluar negeri sebagai sastrawan.

Karya-karyanya : Kranji Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950), Keluarga Gerilya (1950), Mereka Yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Dia Yang Menyerah (1951), Gulat di Jakarta (1953), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954),Korupsi (1954), Suatu Peristiwa Di Banten Selatan (1958), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980). Semua itu berbentuk novel.

Kumpulan cerpennya: Subuh (1950), Percikan Revolusi (150), Cerita Dari Blora (1952), Cerita Dari Jakarta (1957).

Telaahnya: Hoakiau di Indonesia (1950), Panggil Aku Kartini Saja (1962). Buku-buku anak-anak : Calon Arang (1957). Terjemahan-terjemahannya: dari Tolstoi, Kisah Seorang Prajurit Sovyet dari Sholokov, Ibu dari Maxim Kuprin, Tikus dan Manusia dari John Steinbeck, Asmara di Rusia dari Alexander Kuprin, Manusia Sejati dari Boris Polewoi dan sebagainya.

Bumi Manusia.

Novelnya yang bernama Bumi Manusia ini hanya merupakan rangkaian empat buku yang segera bakal diterbitkannya, yakni Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Namun novelnya yang pertama ini telah menunjukkan adanya masalah besar dalam bidang sosial dan budaya Indonesia yang sedang mengunjak masa-masa krisis permulaannya. Dan masalah itu disuguhkan pada kita dengan gaya seorang novelis sejati yang berhasil melepaskan keterlibatan pribadinya dari materi yang disuguhkannya. Ketrampilan tehnisnya juga menunjukkan kepadatan, kerapihan, kedalaman dan keluasan pengupasan tanpa meninggalkan kelembutan dan kelentunan penuturan plot. Novel ini terasa jujur mencari sesuatu yang tak pernah diketahui secara konkrit oleh kebanyakan bangsanya. Pram tidak berpretensi aneh dan besar, apalagi terjerumus ke dalam nafsu pionir pembaharuan, tetapi justru dalam kesederhanaan dan kejujurannya, dalam jalan konvensional, ia muncul sebagai raksasa sastra kita. Pram melukiskan sekeping kehidupan rakyat tetapi sebenarnya ia menyuguhkan gambaran sebuah zaman yang hilang. Sebuah zaman yang dihuni oleh bapak-bapak bangsa kita yang tak pernah dikenal. Bapak-bapak bangsa yang meletakkan dasar-dasar perjuangan besar melawan kolonialisme dan penindasan manusia, yang kelak apinya akan berkobar dan membakar rumah penjajah yang kotor dan massif itu.

250px-Bumimanusia_big copyKisahnya terjadi sekitar tahun 1899. Protagonis novel ini ialah seorang siswa HBS bernama panggilan Minke, ada pun nama sebenarnya masih dirahasiakan sampai novel berakhir. Minke adalah putra kedua dari seorang pejabat daerah kota B. kelak sang ayah akan diangkat menjadi bupati di kota B tersebut. Minke seorang murid yang cerdas dan berbakat menulis. Ia pengagum dan murid kesayangan dari guru bahasa dan sastra Belanda Magda Peters seorang penganut alian Liberal di Hindia yang fanatik. Pada suatu hari Minke diajak bertamu ke rumah seorang nyai (isteri tidak syah) bernama nyonya Ontosoroh (versi Jawa dari Buitenzorg). Di sana Minke berkenalan dengan anak-anak Ontosoroh yakni Robert Mellema dan Annelies. Minke jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Annelies. Cintanya disambut anak gadis Indo yang cantik itu. Tetapi abangnya, Robert, diam-diam sangat membenci Minke. Percintaan berjalan lancar karena nyai Ontosoroh merestuinya. Tetapi ayah Minke yang akan diangkat menjadi bupati tidak menyetujui hubungan dengan anak seorang nyai. Namun ketidak setujuan orang tua ini terampuni ketika secara di luar dugaan Minke dipanggil untuk bertamu ke Asisten Residen, suatu undangan yang amat terhormat. Undangan itu datang karena Asisten Residen sangat tertarik terhadap kefasihan bahasa Belanda Minke. Ternyata Minke menjadi sahabat karib keluarga asisten residen ini yang menganut aliran Liberal dan ingin memajukan pribumi. Dengan kejadian ini percintaan Minke – Annelies dapat dilangsungkan secara terbuka, bahkan Minke telah sering setempat tidur dengan kekasihnya. Hubungan yang terlalu intiem ini menghebohkan sekolahnya. Minke dikeluarkan dari sekolah karena telah hidup sebagai suami isteri dengan kekasihnya, meskipun gurunya Magda Peters berusaha membela murid kesayangannya yang telah menaikkan martabat sekolah dengan tulisan-tulisannya dalam majalah asuhan orang Belanda. Atas pembelaan Magda dan asisten residen kota B, de Corix, akhirnya Minke diperbolehkan sekolah lagi secara terpisah. Tiga bulan kemudian Minke lulus HBS sebagai nomor dua di seluruh Hindia. Setelah lulus Minke mengawini Annelies secara Islam. Namun kemudian datang musibah: Annelies diminta oleh Mauritz Mellema karena dianggap di bawah umur meskipun sudah nikah secara Islam tetapi tidak diakui oleh Hukum Hindia. Mauritz adalah anak kandung Herman Mellema, suami Ontosoroh, yang ditinggalkan di negeri Belanda. Mauritz membalas dendam terhadap ayahnya dan lewat pengadilan Amsterdam seluruh harta Herman Mellema diserahkan kepada warisnya yang syah yakni isteri Mellema di negeri Belanda dan anaknya Mauritz. Minke dan Ontosoroh harus berjuang melawan hukum penjajah ini, namun kalah. Annelies diangkut ke negeri Belanda dan rumah Ontosoroh beserta perusahaan susunya yang besar diawasi pemerintah.

Itulah plot utama novel besar tersebut. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita cabang tentang asal-usul tokoh-tokohnya, yakni tentang hidup nyai Ontosoroh yang dijual oleh ayahnya yang ambisius, tentang asisten residen de Croix yang duda dan hidup dengan kedua anak gadisnya yang intelektual, “bodyguard” nyai Ontosoroh dan beberapa tokoh yang lain. Semua kisah cabang tersebut diperlukan untuk menyoroti latar belakang karakter seseorang.

Yang terasa amat kuat adalah pelukisan karakter tokoh-tokohnya. Jarang novel Indonesia berhasil menyuguhkan gambaran watak yang begitu tajam, terpahami dan begitu beragam. Masing-masing tokoh yang dikisahkan benar-benar hidup dengan pikiran, pribadi dan latar belakang kehidupan yang utuh. Pemunculan Herman Mellema yang hanya beberapa kali (dua tiga kali) sanggup meninggalkan bekas yang begitu dalam. Yang sangat menonjol dalam pelukisan watak ini adalah nyai Ontosoroh yang digambarkan pengarang sebagai wanita dusun yang karena dendam telah terpojok bangkit untuk melawan semuanya, dan muncul sebagai wanita yang kuat dan cerdas. Nasib yang menimpa para tokoh adalah akibat logis dari perwatakan mereka sendiri. Orang sukar pecaya bahwa ini semua hanyalah fiksi dan bukan lukisan biografis, tetapi penggambaran yang begitu jelas dan hidup telah melahirkan berbagai watak yang tak akan mudah dilupakan para pembaca.

Setting cerita ini juga cukup istimewa, yakni kota Mojokerto tahun 1898, terjadi di kalangan masyarakat intelektual Belanda mau pun pribumi. Setting cerita ini memungkinkan pengarang untuk menggarap tema yang begitu luas tentang kebudayaan, sosial dan politik, dengan takaran pemikiran yang falsafi. Pemilihan “masa lalu” telah dikerjakan Pram secara hidup dan lengkap. Rupanya penelitian sosial dan budaya dari tahun-tahu itu telah mendasari penulisan novelnya. Pram memperhitungkan detail yang akan mampu menghidupkan suasana kehidupan sosial pada waktu itu seperti misalnya sistim perlampauan gas, tata dekor perayaan pejabat tinggi, koran-koran yang terbit dan novel-novel yang ditulis pada zaman itu. Juga arus pemikiran “asosiasi” dari Snouck Hurgronje yang rupanya sedang “hangat” pada waktu itu berhasil dihidupkan ke depan pembaca. Kemahiran memberikan suasana yang lentur ini menunjukkan kematangan pengarang dalam profesinya, meskipun gejala semacam itu pernah muncul dalam karya-karya permulaannya seperti Keluarga Gerilya dan Di Tepi Kali Bekasi. Kalau banyak pengarang Indonesia yang sulit melepaskan dirinya dari cerita yang dituturkannya, maka Pram berhasil mengambil jarak dengan masalah yang digarapnya dan dengan jalan pemikiran masing-masing tokohnya. Tiap pemikiran dan sikap yang dituturkannya benar-benar terasa milik para pelakunya.

Penggambaran watak yang begitu jelas menuntun terbentuknya plot cerita. Bukan sebaliknya. Nasib dan sistim sosiallah yang merubah jalan hidup masing-masing tokoh. Mengapa Annelies sampai begitu parah sakitnya oleh cinta bisa kita fahami secara rasional oleh pembawaan wataknya yang kekanakan, rapuh dan selalu tergantung pada orang lain mengapa nyai Ontosoroh berhasil menguasai perusahaan yang begitu besar adalah lantaran semangatnya untuk bangkit dan membereskan semua persoalan sendirian dan sebagainya. Kalau banyak penulis cukup repot menghidupkan sebuah watak untuk novelnya, maka Pram telah menciptakan begitu banyak tokoh cerita yang sangat jelas dan beragam pekertinya. Semuanya itu menarik simpati pembacanya karena memang berkarakter, tidak ada yang jahat, kecuali sistim sosial yang berlaku. Antagonis novel ini adalah sistim kolonial yang terkutuk itu. Mauritz Mellema yang boleh dikatakan sebagai sumber munculnya malapetaka dalam novel ini juga tak bisa dituduh begitu saja kalau orang mau memahami nasibnya yang yatim waktu ditinggalkan berpuluh tahun oleh ayahnya.

Novel ini digerakkan oleh emosi-emosi besar. Dendam dan dendam terus merangkak sepanjang novel ini. Dendam Mauritz pada ayahnya, dendam Ontosoroh kepada orang tua dan masyarakat kolonial, dendam Robert kepada Minke dan dendam kaum intelektual kepada sistim kolonial yang anti kemanusiaan. Sesungguhnya novel ini adalah novel besar bukan saja dalam permasalahan yang dipilihnya, tetapi juga tokoh-tokoh besar yang dimunculkannya, emosi-emosi besar yang menggerakan mereka, pemikiran-pemikiran besar yang dianalisa di dalamnya dan peristiwa-peristiwa “besar” yang bisa menimpa tiap keluarga: ditinggalkan orang tua, ditinggalkan anak kesayangan, ditinggalkan isteri dan kehilangan martabat dalam masyarakat.

Kita beruntung menyaksikan tebritnya novel besar pada dekade ini. Novel yang ditulis bukan dengan pretense megalomania, tetapi novel pencarian yang jujur dan dituturkan dengan kesederhanaan dan konvensional. Novel yang berusaha bertanya dan menjawab secara lugu tanpa bersandar pada teori filsafat tertentu dari Barat. Membaca novel ini teringat novel Pasternak Dokter Zhivago yang dengan penggambaran konkrit riwayat seorang dokter tentara telah berhasil menggambarkan suasana sosial budaya zamannya. Novel ini terlalu pendek untuk sebuah kritik kecil semacam ini. Novel ini bisa menjadi bahan studi bahkan dokumen zamannya. Ia bisa makin kaya kalau orang mengulangi membacanya.

Novel yang cukup tebal ini (328 halaman) tidak melelahkan buat dibaca. Gaya pengarang telah menolong banyak mengusir kebosanan pembacanya. Suspense dan misteri yang selalu hadir tidak menjerumuskan kisah pada jenis novel murahan. Ia hanyalah akibat logis dari permasalahan yang dimunculkannya. Cerita bergerak secara kuat karena dilandasi oleh konflik yang fundamental (perjuangan memperoleh hak, perjuangan mendapatkan pengakuan sosial, perjuangan mempertahankan anak dan isteri dan sebagainya). Meskipun dalam beberapa bagian novel ini terlalu panjang dalam penggambarn (tidak membosankan karena intense) namun dari segi tehnis boleh dikatakan ia sedikit sekali cacadnya. Pram berhasil memasukkan humor-humor kecil tanpa merusak bobot novel yang serius ini.

Sebuah karya yang telah ditulis secara sempurna, setidak-tidaknya dalam tehnik penulisan, tetapi apakah dari segi sejarah dan sistim politik ia cukup otentik pula tentu terserah kepada para ahlinya. Di atas semua itu novel ini memang hanya berurusan dengan kemanusiaan: penderitaannya, impiannya, kegagalannya, kebahagiaannya, perjuangan hidupnya.

Anak Semua Bangsa.

Roman kedua dari “kwaternarius” Pramodya Ananta Toer ini dalam beebrapa segi memang tidak sehebat romannya yang pertama, yakni “Bumi Manusia”. Pertama karena “Anak Semua Bangsa” tidak berdiri sendiri dalam satu pola cerita yang bisa dianggap selesai seperti “Bumi Manusia”. Orang tak perlu menunggu terbitnya roman yang kedua ini setelah membaca romannya yang pertama. Roman Pram yang pertama dari rangkaian empat roman ini memang utuh sebagai sebuah roman. Ia selesai sebagai sebuah karya dan bisa diberi tafsiran secara utuh pula. Justru dengan membaca romannya yang kedua ini seolah persoalan dipanjang-panjangkan. Masalah yang sudah jelas pada romannya yang pertama, kini diusahakan oleh pengarangnya untuk diberi penalarannya. Dalam romannya yang kedua ini pengarang terlalu banyak menjelaskan, sehingga muncullah uraian-uraian verbal yang cukup panjang dan melelahkan. Kedua, roman, “Bumi Manusia” adalah roman yang filmis, penuh kejadian, penuh passi, penuh warna watak yang berbenturan secara indah sekali. Ini memenuhi selera kebanyakan pembaca novel yang memang menyenangi penggambaran pengalaman manusia dari pada mendengarkan penalaran-penalaran masalah lewat dialog para tokohnya.

1444624212-bumi-manus_pvAnak Semua Bangsa melanjutkan kisah perjuangan Nyai Ontosoroh dan pemuda Minke dalam melawan kezaliman budaya penjajah. Kalau dalam roman jilid pertama diakhiri dengan kepergian Anellies negeri Belanda, maka jilid kedua ini melanjutkan nasib Anellies yang malang sebagai akibat kebuasan sistim penjajahan, yang harus meninggal di negeri Belanda tanpa dihiraukan oleh ahli warisnya, tuan Mauritz Mellema. Sampai pada bagian ini roman berjalan dalam suasana tegang menekan serta mendesakkan suatu penyelesaian cepat bagi pembacanya. Suatu unsur yang merupakan daya tarik pada romannya jilid pertama. Tetapi setelah itu roman yang hampir sama tebalnya dengan Bumi Manusia ini bolak-balik menghidangkan pertemuan Minke dengan beberapa sahabatnya yang dirangkai dalam dialog-dialog panjang tentang sistim penjajahan Belanda. Dan akhinya ditutup dengan kedatangan Ir. Mauritz Mellema untuk menyelesaikan “perampasannya” atas kekayaan Nyai Ontosoroh.

Buku kedua ini seolah menghentikan gerak kejadian yang melibatkan begitu banyak watak beragam itu dengan suatu penjelasan rasional atau sifat dan watak penjajahan Belanda di Indonesia. Roman kedua ini pada hakekatnya dalah suatu analisa kritis terhadap apa yang menyengsarakan kehidupan begitu banyak orang. Barangkali bagian yang verbal ini perlu untuk meletakkan dasar-dasar perjuangan Minke kemudian (pada buku-buku selanjutnya), sebuah rangkaian roman yang hendak mengadakan “perhitungan” secara tuntas terhadap munculnya gerakan nasional Indonesia dan dasar-dasar sosial psikologis yang melatar belakanginya.

Memang bukan suatu kemunduran dalam penulisan, tetapi barangkali roman kedua ini baru memiliki arti kalau jilid-jilid selanjutnya telah selesai terbit. Roman kedua ini hanyalah sebuah mata rantai penghubung yang akan bisa dinilai secara obyektif kalau seluruh cerita telah dihidangkan. Meskipun demikian gaya Pramoedya tidak pernah luntur. Ia tetap novelis yang menulis Bumi Manusia. Penulis yang menguasai obyek studinya secara luas dan mendasar, yang tahu banyak persoalannya. Penulis yang mahir menghadirkan watak-watak tokohnya secara konsisten, hidup dan mandiri. Penulis yang pandai melihat adegan-adegan yang mewakili sebuah kenyataan sesuai dengan temanya. Penulis yang matang dalam menilai kehidupan ini, melihat inti hakekatnya dan menyimpulkannya menjadi sebuah aporisma baru yang segar dan dalam.

Roman ini rupanya mau menjelaskan bagaimana Minke mulai tumbuh sebagai pemuda terpelajar yang orientasinya pada nilai-nilai kaum terdidik Belanda menjadi pemuda yang sadar lingkungan sendiri. Apa yang dipuji-puji oleh kaum terpelajar Belanda, ternyata diremehkan oleh kawan-kawan dekat Minke yang mempunyai orientasi kepada kaum pribumi, seperti Jean Marais dan Kommers. Sentilan-sentilan ini mula-mula membikin Minke tersinggung. Ia tidak mau dikatakan sebagai penulis yang tidak mengenal bangsanya sendiri, tidak mengenal persoalan rakyat yang sebenarnya. Minke hanyalah penulis kelas salon yang secara tak sadar menjadi anak didikan kaum pemegang modal Belanda. Sentilan-sentilan kawan dekatnya inilah yang menyebabkan Minke harus berlibur ke pedalaman dan belajar memahami masalah rakyatnya. Idealisme liberal yang dahulu sering ditulisnya di majalah Belanda dan dipuji oleh kerabat-kerabat Belandanya yang liberal pula, kini diuji dengan kenyataan masyarakatnya. Di desa itulah ia berkenalan dengan petani Kromodongso yang sia-sia mempertahankan sejengkal tanahnya dari jangkauan tangan rakus para pemilik pabrik gula. Bukan hanya tuan-tuan Belanda bermodal yang menjadi musuh orang-orang macam Kromodongso, tetapi juga pejabat-pejabat desa yang menginginkan kedudukan lumayan dengan adanya pabrik-pabrik gula itu. Minke menyadari bahwa para petani tak mempunyai pembela. Dan Minke memutuskan untuk menjadi pembela petani-petani “kromodongso”. Sesuah dengan sendirinya penerbitan Belanda yang dibeayai kaum pemilik usaha gula tak sudi menyairkan karangan-karangannya. Apa yang dahulu disindirkan oleh kawan-kawan dekatnya, kini disadari kebenarannya. Minke harus belajar menulis dalam bahasanya sendiri, tentang rakyatnya sendiri dan harus baca oleh bangsanya sendiri! Roman ini baru sampai pada taraf itu. Jilid selanjutnya mungkin saja menunjukkan arah seperti dikehendaki Marais: Minke harus memiliki surat kabar sendiri, ditulis dalam bahasa sendiri dan ditujukan buat bangsanya sendiri.

Kesadaran Minke ini rupanya mau disejajarkan dengan kebangunan umumnya kaum muda di Asia, kaum muda di negara-negara terjajah yang ingin merdeka dan maju dengan kekuatan sendiri. Inilah sebabnya Pram harus memakan banyak halaman untuk menjelaskan kebangkitan ini lewat mulut beberapa tokohnya. Dan inilah sebabnya roman ini lantas berhenti di kamar-kamar pembicaraan. Kejadian-kejadian terhenti, suspense berjalan tersendat-sendat, tidak selancar dan seintens jilidnya yang pertama.

Menilik tema utama dalam jilid kedua ini nampaknya Pram seperti mengulangi gugatan lama yang pernah diajukan secara lantang oleh Multatuli pada zamannya. Dilihat dari segi ini pembelaan Pram dengan sendirinya telah sangat ketinggalan. Namun penilaian ini bersifat sementara sebab kita belum melihat kelanjutannya. Mungkin saja masalah ini hanya sekedar anak tema yang akan mendukung terwujudnya tema besar yang akan digarapnya: bangkitnya sebuah bangsa.

Beberapa tuduhan bahwa riwayat Minke ini berdasarkan riwayat hidup seorang wartawan pribumi yang amat terkenal pada permulaan abad 20, tidaklah mengurangi nilai sastra roman-romannya. Roman apa pun bisa berdasarkan pada kenyataan sejarah sebagai bahan, sebab yang terpenting adalah pengarang mampu mengisinya dengan suatu arti, suatu maksud, suatu misi. Pram tidak menulis biografi, tetapi roman, karya fiksi. Ia bebas memberikan arti kepada bahan yang bersifat historis. Sebab kalau ia menulis biografi kebebasan dalam mengemukakan misinya akan banyak dipagari oleh tuntutan data. Pram ingin mewujudkan misinya lewat pengalaman hidup konkrit seseorang, sehingga pembaca ikut mengalami dan berpartisipasi di dalamnya. Dan dengan cara ini misinya mudah dicerna oleh pembacanya.

Banyak hal yang menguatkan bahwa Minke adalah tokoh yang benar ada. Kawan-kawannya, antara lain Kommers, memang dikenal dalam sejarah sastra kita yang bersama-sama Wiggers menulis dalam bahasa Melayu waktu itu.

Akhirnya kita hanya bisa menunggu bagaimana riwayat Minke dan Ontosoroh dalam jilid-jilid selanjutnya. Ternyata serangkaian romannya ini hanya bisa dinilai secara utuh setelah semuanya berhasil diterbitkan. “Bumi Manusia” yang menggegerkan itu bukanlah cerita sukses orang pengarang yang sudah selesai. Tetapi gaya Pramoedya yang tak pernah luntur itu masih terasa dalam jilidnya yang kedua ini. Kalau pun terjadi semacam “kemunduran” dalam jilidnya yang kedua ini, hanya berlaku dalam satu segi saja, yakni nilai kelancaran plot dan suspense yang begitu kuat menderas dalam jilidnya yang pertama. (*)

Check Also

theculturetrip.com

Cerpen Hermann Hesse: Untuk Nona Gertrud

Dalam kamar terpencil di puriku, di bawah naungan jendela sempit, kau sering duduk, kau, yang …

One comment

  1. Membaca roman karya Pram sungguh luar biasa. Begitu menghentak dan menggelorakan emosi. Tidak hanya itu, ia juga mampu menggerakan manusia untuk berbuat, bukan semata capaian pengetahuan namun menggerakan kemauan untuk turut merasakan penindasan. Hingga penindasan itu tetap harus dilawan,dengan sehormat-hormatnya dan segala daya yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *