Download Free FREE High-quality Joomla! Designs • Premium Joomla 3 Templates BIGtheme.net
e-whats-new-in-this-seasons-reality-shows-1200x580
Home / Intermezzo / Nadine Gordimer: Terjun

Nadine Gordimer: Terjun

IA sadarkan diri di kamar ini, dibalik pintu apartemen itu, di ujung sebuah koridor, di lingkungan kamar-kamar tujuan ini, yang bernama HOTEL LEBUVU, yang hurufnya berupa mozaik disepuh, tempat ia dijebloskan. Lobby luas dihuni satu sofa berlapis plastik, beberapa kursi malas berserakan, elevator yang menunggu diliangnya, yang melintasi lantai demi lantai beraula kosong ditempeli papan nama gemerlap—CONFERENCE CENTRE, TROPICANA BUFFET, THE MARMAID BAR—ia sadar bahwa akhirnya ia terjangkau di tengah semua ini, seperti serangkaian pergantian adegan dalam sebuah film yang menggerakkan kamera menerobos dinding demi dinding, untuk akhirnya menemukan satu sosok, sang pahlawan, si kriminal. Ia sendiri.

Tirai-tirai itu tersingkap ke arah gelap, di malam hari. Ketika terbangun pagi hari, tirai-tirai itu ia tutup. Kini tirai-tirai itu dipanggang matahari. Siang mendesak masuk. Tapi ia membelakanginya; ia cuma gema dalam ruang bekas hotel.

Kursi itu menghadap ke satu set TV berlayar-kaca lebar yang sudah harus mereka pasang ketika tempo hari mereka memutuskan ke mana ia akan dijebloskan. Kelengkapannya tak tertandingi—meja transaksi dengan emapt kursi yang dudukannya keras dilapis plastik merah, sofa berbulu memiliki tempat duduk ganda, bangku formika, tirai-tirai hangat dihiasi pola bintik-bintik serta bulatan-bulatan gemerlap bagai percik lidah api. Semua ini adalah perlengakapan yang sesuai bagi pemondok sementara yang menghabiskan waktu cuma satu malam, mereguk bir meluap dan mematikan rokok di bawah tumit sepatu. Gembung layar-kaca yang keperakan memantulkan bayangan gembung dan redup seraut penuh wajah—pucat. Lupa, ia mengeluskan sebelah telapak tangan ke pipi dan dagu, tapi tak ada berewok; rupanya sudah dicukur. Mereka juga telah memberinya uang untuk melengkapinya dengan pakaian yang kini dikenakannya. Berewok itu (yang hitam-lebat, beda dengan rambut halus di kepalanya), pakaian-kerja samaran yang dimasukkan ke sepatu botnya dan tertarik secara paksa setiap melangkah, baret yang pinggirannya dilapis kulit; semua itu sudah copot dari tubuhnya, membuatnya bebas. Nah! Ia harus dipercaya, tadinya ia memang dipercaya. Muka itu pucat dan miring ke arah daging-pucat dagunya; ini akibat sosok pribadi yang tersembunyi. Pribadi yang tergugat di layar-kaca mati ketika ia melihat ke situ. Anak kecil yang diingatnya—dirinya sendiri—pemilik seekor anjing yang ketika anjing itu ditangkap dan dimandikan, anak itu langsung menggigil, malu, karena bulu basah yang lengket menyingkap tubuh anjingnya yang sangat ceking, padahal lapisan bulu hewan itu cukup subur.

Mereka telah menyediakan sebuah cassette-player dari kualitas yang baik, juga TV belayar-kaca lebar itu. Ia kini menyetelnya, membuat ruangan jadi begitu bising, melawan desakan siang yang mendesak tirai-tirai, juga mendesak ilustrasi musik sebuah film mengenai prajurit Amerika yang menjadi brutal gara-gara berbagai kekejaman yang dialaminya ketika ia dipaksa bertugas di Vietnam. Ia pernah menonton film itu dulu, sudah lupa-lupa ingat, dan tak pernah lagi membayangkannya. Saat ini ia bukan sedang mendengar gelombang besar serta dentuman di film itu, genderang pertikaiannya, embusan kemuliaan, untaian nada bermacam tekad yang menggetarkan, rangkaian penyesalan mengharukan, rasa jijik yang tiap sebentar hilang-timbul—semua itu, rupanya, mucnul dari dalam dirinya sendiri. Semua itu meluap dari dalam dirinya, sementara ia tetap saja duduk tanpa memperhatikan adegan yang melekat di layar-kaca. Adakalanya ia memandangi tangannya. Tangan itu semula tak pernah selaras dengan brewoknya, dengan pakaian kerja , baretnya, dengan perintah-perintah yang ditandataganinya. Tangan itu kurus, putih, tak berbulu, tulang-tulangnya yang rapuh hampir transparan, mirip kerangka-tokek-tembus-pandang dibungkus kulit yang pucat. Buku-buku jarinya merah-muda lembut, tangan yang bersih, bersih, digosok, lagi-lagi digosok—tapi di sekujur huruf V yang terbentuk oleh jari telunjuk dan jari tengah terdapat noda nikotin berwarna kotor, jemari yang menjepit rokok menyala. Mereka tadinya siap menghabiskan mata uang asing itu untuknya. Mereka masih menyediakan entah dari mana rokok impor kegemarannya; berbungkus-bungkus menumpuk dalam kertas kaca, tinggal ambil. Juga ia bisa memanggil pelayan lewat telepon yang menggeletak di lantai, dan sesudah menunggu cukup lama, seseorang akan datang membawa bir dingin. Ia pernah ditawari wiski, apa saja yang diinginkannya, dan waktu itu ia memesan wiski meski ia belum pernah sekalipun menenggak alkohol—dalam profesinya, ia memilih untuk membangkitkan rasa hormat pada dirinya sebagai pribadi berdisiplin tinggi, dan bukan sebagai orang yang dikagumi hanya karena keangkuhan gaya berjalan saja.

Wiski itu tidak lagi diantar; ketika dipesannya sebotol tak ada komentar, tapi tak juga diantar.

Seolah-olah wiski itu sudah jadi masalah.

Di balik ingar musik, keheningan mencekam. Soal rumah, tak pernah lagi disinggung. Dalam transaksi tempo hari, ia juga memperoleh sebuah rumah; ia diberi pengertian bahwa rumah merupakan satu di antara benda-benda berharga yang ditelantarkan dan diambil alih oleh negara atau atas nama rakyat ketika para penjajah angkat kaki. Satu rumah lengkap dengan taman dan penunggu (kalau dalam keadaannya yang sekarang, berarti pengawal), salah satu dari rumah-rumah yang dulu sering ia lewati ketika masih sekolah sebagai putra pegawai pemerintah yang tinggal di kawasan pemukiman kulit putih yang tergolong makmur. Satu rumah dan satu mobil. Akhirnya, termasuk satu kedudukan cukup yang lumayan. Benar-benar direhabilitasi. Ia sempat mempertimbangkan satu informasi, yakni peluang jadi pegawai hubungan masyarakat dengan mengandalkan pengalaman internasionalnya); memang terlalu terburu-buru mengutarakannya, tapi mereka tak menolak waktu itu.

Waktu itu, apa yang diinginkannya adalah imbalan untuknya. Para awak TV datang, bukan saja dari jaringan TV Afrika terkemuka, tapi juga dari BBC, CBS, Zwites Deutsches Fernschen—termasuk wartawan-wartawan dari luar negeri lengkap dengan alat-alat perekam. Berbagai konferensi pers diselenggarakan untuknya, dihadiri Panglima Angkatan Bersenjata, Menteri Pertahanan, lengkap dengan ajudan-ajudan mereka, sama mengahnya dengan yang dilakukan para penjajah yang sudah digulingkan. Ada karangan bunga di antara gelas-gelas minuman. Ia ditampilkan dalam pakaian yang sudah disediakan; pahanya, yang tadinya dibalut pakaian-kerja, terlalu gempal ketika bersilang kaki dalam setelan celana tropik agak licin, dagunya putih, lembut dan klimis tanpa berewok, rambutnya dipangkas rata dan rapi dengan lingkaran rambut kelabu di dahi, dicukur rata hingga tengkuk—bertengger di atas tubuhnya yang besar dan bungkuk; ia lihat dalam potret-potret yang terpampang di koran, kepala seorang anak kecil bermata bulat yang kebingungan, di bawah alis yang terangkat karena mengernyit. Ia membeberkan kisahnya. Pada setiap penampilan selama beberapa bulan pertama, ia berulang-ulang membeberkan kisahnya. Kini semua orang telah mendengar kisah itu.

Di atas meja yang keempat kursinya telah ditarik keluar, menggeletak dalam piring telur goreng dingin yang ditutup dengan piring lain. Satu kendi air panas yang sudah suam-suam kuku, di samping kopi instan dalam satu mangkuk kaleng. Seseorang telah membawa masuk semua ini, lalu pergi. Semua sudah pergi. Musik yang meninggi dan bergelombang di ruangan itu merupakan pengiring satu pertunjukan yang sudah usai. Ketika tape itu berhenti, ia menekan tombol pemutar-ulang, memutar kembali musik itu.

***

MEREKA tak pernah lagi menyinggung soal rumah dan mobil, dan ia tak tahu cara mengurusnya—mereka hampir tak pernah lagi menjenguknya, tapi boleh jadi keadaan ini lumrah saja karena tanya-jawab itu sudah selesai; mereka sudah puas. Tak ada lagi yang hendak dibeberkan pada para awak TV dan wartawan. Tak ada lagi yang bisa ia ingat-ingat—ayo, ingat lagi, ingat lagi—untuk diutarakan.

Mereka telah mendengar kisah masa kecilnya di ibukota ini, di negeri tempat ia dipulangkan kembali. Bahwa ia adalah putra kolonial biasa dari sepasang orangtua yang datang dari Eropa untuk menemukian kehidupan yang lebih baik di negeri bercuaca hangat dan penuh peluang. Memang cuacanya hangat, ada laut, buah-buahan tropis, orang-orang kulit hitam yang siap bekerja keras, namun peluang yang ada ternyata hanya masa jabatan terjamin bagi seorang kulit putih sebagai pegawai rendah pemerintah. Orangtuanya tak tertarik pada politik, tidak pernah. Juga tak tertarik pada masalah-masalah kulit hitam. Pasangan ini tidak mengira kaum kulit hitam bakal memengaruhi kehidupan mereka dan kehidupan putra tunggalnya. Ketika pecah perang kolonial, itu dimulai nun jauh di utara, beberapa pasukan tentara datang dari “ibu” negara untuk membereskannya. Si putra tunggal mungkin akan menjadi seorang akuntan, tentu berkat bisikan seseorang pada ayahnya lewat telpon, karena masing-masing generasi harus memiliki  kehidupan yang lebih baik sebagaimana orangtua mereka telah memperjuangkannya dengan jalan berimigrasi. Ia dibesarkan dalam suasana menganggap perang yang dikobarkan kulit hitam sebagai sarana pelampiasan terhadap  pemainan penuh petualangan yang tak ada dalam realitas hidup kaum kulit hitam. Sebagai remaja, ia bergabung dengan kawan-kawan sebayanya sebagai anggota klub terjun payung, ikut terjun—semacam upacara menuju kedewasaan.

Di ibukota, tempo hari, revolusi itu berhasil dalam waktu singkat gara-gara keputusan Eropa untuk melepas kekuasaan, dirongrong oleh pribumi lewat perang bertahun-tahun di pedalaman. Beberapa patung dirobohkan di alun-alun ibukota, dan beberapa toko dijarah sebagai ungkapan balas dendam terhadap penjajahan. Waktu itu, orangtuanya menganggap situasi aman-aman saja, dengan tetap melanjutkan kegiatan sehari-hari, terutama mengurusi tetek-bengek yang menjadi masalah buat mereka; tetap mengumpulkan sampah dua kali seminggu, pergi ke pasar membeli ikan. Kehidupan mereka yang sederhana pastilah tak akan disentuh oleh hukum kulit hitam.

Ketika itu ia sedang magang sebagai juru gambar seorang arsitek (posisi ini lebih bergengsi daripada akuntan) dan kegemarannya  di akhir minggu, di samping terjun dari udara, adalah  memotret. Bahkan ia bisa memperoleh tambahan uang saku dengan menjual potret-potret burung yang bagus serta binatang-biantang lainnya di koran setempat. Kemudian terjadilah malapetaka itu—serta merta semuanya berputar seperti tape yang sedang mengisi kembali silinder sebelah kiri ketika di-rewind—disusul pengalaman itu, yakni menjelaskan apa saja yang pernah dilakukannya sejak itu, apa yang harus diakuinya, apa saja yang membuatnya harus menyalahkan dan menghakimi diri sendiri pada setiap penampilannya di hadapan wartawan atas persetujuan dan di bawah pantauan panglima Angkatan Bersenjata serta Menteri pertahanan, selama pemeriksaan lewat tanya-jawab itu, selama wawancara bercorak interogasi itu; juga sekarang, tanya-jawab dengan dirinya sendiri di tengah kemuraman di balik gemerlap tirai-tirai, di depan mata ikan layar TV, dikempung suara musik, seorang diri.

Ia telah memotret seekor burung laut yang hinggap di satu bangunan berbentuk menara. Beberapa tentara dengan senapan mesin tumpul menangkapnya, menghantam kameranya, dan menyerahkannya pada polisi. Ia disekap selama lima minggu dalam satu sel kotor yang biasa dipakai rezim kolonial untuk tawanan kulit hitam. Orangtuanya diberi tahu ia seorang mata-mata imperialis—sang putra tunggal yang tak berdosa, yang baru dua tahun putus sekolah! Pastilah semua ini gara-gara kacaunya keadaan di hari-hari pertama bebas dari cengkeraman penjajah (ia akan menjelaskan demikian pada yang mau mendengarnya), yang selama ini didambakan. Tapi siapa sih pemuda itu sampai anggap dirinya boleh memotret apa yang disukainya, bahkan sebuah instalasi militer yang sangat diincar oleh musuh-musuh negara yang baru merdeka itu? Pemuda kulit putih lagi.

Pada saat ia harus membeberkan semuanya, untuk pertama kali dalam hidupnya ia menaruh perhatian pada kaum kulit hitam dan membenci  mereka. Mereka telah menghantam kameranya dan menyekapnya seperti orang kulit hitam, karena itu ia membenci mereka, membenci pemerintahan mereka dan apa saja yang mungkin mereka lakukan, baik atau buruk. Tidak—pada saat ini ia tidak yakin mereka mampu melakukan hal-hal yang baik untuk negeri tempatnya dilahirkan. Lalu ia dicari dan mencari—terhadap perbedaan kecil ini, tak pernah ia tahu mana yang benar—orang-orang kulit putih yang berhasil dibujuk orangtuanya untuk membebaskannya. Lalu mereka datang menenangkannya dengan memperlihatkan amarah terhadap apa yang terjadi dan memberinya ganti rugi demi persahabatan klub terjun payung (yang ditutup oleh dinas keamanan militer), berupa satu kedudukan dalam organsiasi rahasia yang bertugas memulihkan hukum kulit putih berdasarkan mandat takluk dari kaum kulit hitam.

Bagaimana cara melaksanakan pemulihan itu belum dirumuskan; sekutu-sekutu belum ditemukan di antara negara-negara yang terlibat perang dingin maupun perang terbuka, uang dari negara-negara yang berminat menanam modal di bidang perminyakan dan pertambangan mineral belum disalurkan, sumber-sumber perlengkapan dan tentara-tentara sewaan yang terlihat persekongkolan untuk melakukan pemberontakan militer masih dalam penyelidikan. Waktu itu ia membungkuk diam-diam di atas meja gambarnya, dan malam harinya ia menghadairi pertemuan-pertemuan rahasia. Ia merasa sangat patriotik; sesuatu yang baru, karena orangtuanya telah meninggalkan negeri kelahiran ini dari negeri ini telah diambil alih kaum kulit hitam untuk dijadikan milik mereka sendiri. Orangtuanya bersyukur ia bergabung dengan selamat dalam satu kelompok yang baik, kelompok sesama kulit putih tapi agak lumayan kaya dan berpengalaman luas dalam cara melanjutkan hidup di negeri bercuaca hangat ini, kelompok yang dipercaya bisa menasihati seseorang kapan saat yang tepat untuk angkat kaki. Saat itu orangtuanya bangga ketika dikabari putranya dikirim ke Eropa untuk belajar, suatu langkah dermawan yang dilakukan orang-orang setanah-asal yang sama-sama pernah berimigrasi.

Di antara sejumlah awal mula yang sederhana ini, ternyata ia memang telah mewarisi bakat kontrarevolusioner dari leluhurnya.

***

TELEPON itu bukan saja bisa dipakai antarkamar untuk memanggil lelaki tua kulit hitam yang kusut karena mengenakan pakaian dari bahan keper itu, yang membawa bir, telus, dan menutupnya dengan piring lain. Telepon itu bisa dipakai untuk melakukan pembicaraan jarak jauh tiap hari, kalau ia mau. Tak ada tagihan; mereka yang bayar. Keadaannya tempo hari jelas—mereka akan menyediakan segalanya. Maka ia menelepon ibunya tiga hari sekali di satu kota di Eropa, kota yang dituju orangtuanya ketika orang-orang yang memahami situasi menyarankan sudah waktunya angkat kaki. Ia harus menelepon, itu saja. Di sana sedang musim dingin dan telepon itu akan berdering di tatakannya di ruang tamu kediaman orangtuanya, dalam kotak mengkilat bertutup ganda yang ditemukannya ketika ia berlajar di kota yang sama di Eropa (kota asal orangtuanya).

Seharusnya orangtuanya segera menyadari, bahwa ia bukan sedang menuntut ilmu ketika dikirim ke Eropa. Setidaknya bukan dalam pengertian yang biasa mereka pahami, yakni memasuki suatu institut, lalu memenuhi syarat profesi yang dipilih. Namun bagi orangtuanya,jelas ia baik-baik saja, bahkan dihargai cukup tinggi oleh orang-orang yang mengenal kualitasnya sebagai pemuda dan yang telah menyelamatkannya dari hari-hari penuh celaka itu, yakni ketika orang-orang kulit hitam menjebloskannya kembali ke penjara, ke tempat lenyapnya semua fasilitas, persis seperti keadaannya saat ini—lenyapnya peluang pensiun sebagai pegawai  pemerintah, lenyapnya matahari. Ketika itu ia terlibat masalah dengan orang-orang kaya, semacam bisnis internasional yang baginya sangat rumit untuk dihargai. Yang disebut ayah dan ibu memang tidak boleh melakukan tindakan apa pun yang kira-kira akan mencelakakan peluang-peluang yang tak bisa mereka sediakan untuk putra mereka. Ia senantiasa dalam perjalanan ke dan dari bandara—Prancis, Jerman, Swiss, dan negara-negara tujuan lain yang bukan ia tentukan sendiri. Tentu saja bakatnya dalam bahasa asing amat berharga bagi orang-orang dengan—bukan untuk—siapa ia bekerja sama, semacam kerja sama sederajat yang mempertegas kedudukannya.

Ia tidak memiliki satu apartemen pun, tapi sebuah rumah dibelikan untuknya peribadi di salah satu kawasan terbaik. Tempat belajar maupun kantornya bukan hanya dipenuhi dokumen-dokumen dan buku, tapi juga dilengkapi perangkat telekomunikasi paling mutakhir. Rekan-rekan dari luar negeri datang menginap. Ia punya pembantu yang bekerja penuh. Dagingnya yang muda dan lembut tenggelam menjadi gumpalan daging lembek akibat kehidupan yang nyaman, lalu berewoknya tumbuh, hitam dan kasar, yang memberinya kesan seorang yang berkuasa. Mereka tak pernah melihatnya mengenakan artributnya yang lain; pakaian kerja yang kedodoran itu, lengkap dengan sepatu bot dan baretnya. Ia mengunjungi mereka dalam pakaian sipil yang menjadi pakaian samarannya.

Pertama kali ia menggunakan telepon di lantai itu adalah ketika ia menelepon ibunya, memberi tahu ia masih hidup dan berada di bekas hotel ini. Di mana? Sungguh tak diduga ibunya sama sekali: kembali, lagi-lagi kembali ke negeri ini! Matahari, mangga (hari ini ada dua buah yang disediakan di meja, di samping telur yang sudah membeku), penjara tempat seorang pemuda kulit putih disekap seperti orang kulit hitam saja. Ibunya menagis, karena ibu dan ayah mengira ia sudah mati. Ia lenyap dua bulan sebelumnya. Tanpa berita sama sekali. Inilah salah satu syarat yang harus dipatuhinya, yakni tidak boleh memberi tahu orang-tuanya bahwa ini bukanlah perjalanan bisnis yang memungkinkannya bisa pulang: ia melepas rumah di kawasan terbaik itu, menyerahkan pembantunya, melepas kamarnya yang dipenuhi buku-buku, yang dilengkapi sistem telekomunikasi itu, perlengkapan yang berperan merancang peledakan kereta api, penanaman ranjau di jalan-jalan dan pembantaian penduduk desa di pedalaman negeri kelahiran.

Hari ini tiba giliran menelepon ibunya. Semakin sulit saja memenuhi kewajiban itu. Tambahan pula, tak ada lagi yang harus dikabarkan. Sehabis tangisan syukur karena putranya masih hidup, sementara waktu berlalu, ibunya bertanya kenapa sebagai ibu ia dihukum seperti itu, kenapa putranya harus terlibat sesuatu yang berakhir demikian buruk.

Di telepon, ibunya bertanya: kau baik-baik saja?

Ia menanyakan kesehatan ayahnya. Bukankah cuaca musim dingin di sini tak terlalu menggigil?

Begitulah, angin pegunungan agak memengaruhi rematik.

Ibu butuh sesuatu? (Mereka menyediakan uang untuk dikirim pada orangtuanya, karena ayahnya tak memperoleh uang pensiun: ia sudah bagian dari transaksi).

Akhirnya tak ada lagi yang perlu disampaikan. Ibunya tak menanyakan apakah ia kepanasan kembali ke negeri ini, meski matahari menimbun panas di tirai-tirai tertutup, meski ibunya tahu betul seperti apa teriknya negeri ini di musim kemarau, sementara putranya sempat tujuh tahun meninggalkan negeri ini dan tak bisa menyesuaikan diri kembali dengan iklim setempat. Si ibu tak mau menyinggung soal iklim yang panas, karena itu berarti ia mengakui kembalinya putranya ke negeri ini. Ia dan suaminya tak memahami kehidupan putranya, ada apa semua in; kenapa ia tahu-tahu sudah berada di rumah bagus itu, punya sistem telekomunikasi, punya koneksi internasional, atau kenapa ia kehilangan semua imbalan dan fasilitas itu. Si ibu tak banyak bicara, nada suaranya lesu, di telepon itu. Tapi si ibu mengirim surat. Mereka menyampaikan surat-surat ibunya, diselipkan di bawah pintu,

Mengapa Tuhan menghukumku? Apa yang sudah dilakukan ayahmu dan aku? Segalanya bermula sejak lama dulu. Kami terlalu lemah padamu. Mengalah, membiarkanmu keluyuran dengan anak-anak itu. Maksudku, soal parasut yang tak ada gunanya itu. Harusnya kami melarangmu. Sejak itu perkembanganmu  jadi kacau, harusnya saat itu  kami menyadari kau bakal merepotkan hidup kami. Aku tak tahu kenapa kau mesti terjun dari atas sana. Tahukah kau bagaimana perasaanku, melihat kau jatuh seperti itu; kau bersenang-senang, membiarkan kami mati ketakutan sementara kau enak saja bunuh diri? Harusnya kami menyadari sejak dulu. Kapan ini berakhir? Kenapa kau harus begitu? Kenapa? Kenapa?

***

SELAMA berminggu-minggu diwawancara dan kemudian ditampilkan dalam konferensi-konferensi pers, ia harus terus buka mulut.

Mereka menuntut, lagi-lagi menuntut. Itu hak mereka.

Kenapa kau tega bergabung dengan gerombolan zalim yang membakar habis beberapa rumah sakit, memutus perbekalan penduduk pedesaan, meledakkan kereta api penuh pekerja tak berdosa yang pulang ke gubuk-gubuk mereka, memerkosa anak-anak, dan memaksa wanita di bawah ancaman senjata untuk membunuh suami-suami mereka dan mengganyang dagingnya?

Saat itu ia duduk dalam ruangan ini, sebelum para interogatornya menjadi gila dan ia dihadapkan pada kegilaan mereka. Sebagaimana ia duduk sekarang ini dalam gelap senja di depan televisi berlayar-kaca lebar itu, unjung menyala sebatang rokok terjepit di antara jemari tangannya yang putih-mulus dan sepasang mata birunya yang pucat berkilat di bawah alis yang mirip alis anak anjing. Menggeletar, saat itu mereka tak melihat geletar itu, tepi ia menggeletar tiap kali mendengar mereka mencatat kejadian yang diketahuinya. Kenapa mereka bisa bicara begitu, terus-menerus seperti itu?

Kenapa perasaan ngeri timbul perlahan-lahan. Membutuhkan waktu berminggu-minggu dan berbulan-bulan, sedikit demi sedikti rasa ngeri itu bertambah, meningkat, menggulung, membesar berkat kode-kode operasi tertentu; hasil transaksi-transaksi perang disimpulkan diam-diam dengan persetujuan negeri-negeri yang mengutuk transaksi demikian di depan umum; berkat kata; “destabilisasi”, suatu struktur yang sehat—meski dasarnya rapuh—mungkin saja bisa ditegakkan pada tempatnya bersama citra bagian perlengkapan yang cacat. Ia mengirim faksimal, ia melakukan penerbangan-penerbangan untuk kampanye dalam rangka mencari dukungan dari perusahaan-perusahaan multinasional yang berminat menanam modal di bidang pertambangan minyak dan mineral yang akan diberikan kaum kulit hitam pada kantor perwakilan asing yang menaruh minat berdasarkan persyaratan yang berbeda; benar-benar suatu jangkauan pengaruh.

Dalam rumah bagus itu, tempat se buah jam antik yang mendendangkan seuntai melodi mengatasi bunyi gagap mendadak perangkat komunikasi, perang adalah masalah kecerdasan, semacam keajaiban karena mampu menangkap suara seorang jenderal ribuan kilometer jauhnya, di benua lain, nun di tengah hutan. Ketika ia melalang-buana ke Eropa melaksanakan misinya, ia sendiri sudah mirip prajurit: berewok itu, baju kerja itu, baret itu. Orang-orang yang dikunjunginya memandangnya sebagai tokoh yang datang langsung dari medan perang golongan kanan dan kiri, perlengkapan keprajuritannya itu mengubah kepribadiannya hingga ia seakan-akan baru saja menjelma dari takdir genetik yang dikenal sebagai ladang eksploitasi itu.

Maksudmu, kau mengatakan tidak tahu?

Tapi waktu itu tak seorang pun yang bicara. Satu tekanan harus berhasil, atau tidak sama sekali. Satu bendera kecil bergeser di atas peta. Sejumlah prajurit hilang dan semua kerugian yang menimpa pasukan pemerintah dicatat. Terjadi beberapa kemunduran. Satu angkutan perbekalan dan peralatan militer besar-besaran lewat udara, yang dilakukan satu negara tetangga Afrika yang bergabung dengan dalih destabilisasi, telah berhasil dilaksanakan; pasukan pemberontak akan mampu bertempur selama bertahun-tahun, desa demi desa, jembatan demi jembatan, pos-pos tentara dan jalan-jalan strategis di peta akan dikuasai. Kemenangan akan diraih oleh pihak yang berhak.

Tak ada yang memberi tahu bagaimana kemenangan itu diwujudkan. Pemerintah kulit hitam yang menyebarluaskan laporan terjadinya pembantaian kalau ada prajuritnya yang hilang, dan tentu saja kaum kiri dan pers liberal menelan mentah-mentah dongeng ini. Pihak intelijen, sama pastinya dengan tik-tak jam yang berbiaskan boneka dewi sepuhan itu, memasukkan laporan-laporan yang tak akurat itu ke dalam arsip, yakni di kolom kesalahan informasi tentang destabilisasi.

Di kamar bekas hotel ini pun para interogatornya masih saja menunggunya agar lagi-lagi bercerita. Ketika itu ia lagi-lagi menelan di antara setiap satu kalimat, dan sementara ia mengucapkan kalimat itu, mereka mengawasinya menelan. Kini telur dingin itu seakan masih tersekat di tenggorokannya. Merentang sejalur pita halus iring-iringan semut sangat kecil yang mendaki enam tingkat bangunan bekas hotel itu, melewati serambi kosong dan ruang-ruang resepsi tertutup, lalu menaiki kaki meja mendapatkan makanan yang tersisa di situ; ia maklum. Dan lagi-lagi membeberkan—membeberkan terus-menerus pada dirinya sendiri, namun kini karena tak ada lagi yang muncul mengajukan pertanyaan, ia menelan, sementara iring-iringan semut itu datang terus. Terus, terus.

Bukan begitu, sampai saya pergi  ke negara tetangga itu, negara yang menyiapkan peralatan, pesawat-pesawat, data-data intelijen yang disediakan oleh agen-agennya—satu negara kulit putih yang sangat maju—mengunjungi pusat komunikasinya yang dibangun untuk kami di satu gedung di Eropa. Juga satu basis.

Teruskan.

Satu basis pelatihan untuk pasukan kami. Basis rahasia, tak ada yang tahu ada basis di sana. Tersembunyi dalam hutan lindung. Saya sangat yakin—senang—mengetahui bahwa saya bukan hanya dikirim mengelilingi Eropa, tetapi juga terpilih mengunjungi negara kulit putih itu. Membina hubungan. Bertemu Panglima Keamanan Nasional dan Satuan Khusus. Langsung menyaksikan sendiri tingkat kerja sama penting berdasarkan dedikasi timbal-balik untuk kesuksesan operasi kami. Melaporkan kembali perkembangan moril pasukan kami yang dilatih di sana dalam hal menerapkan strategi dan menggunakan persenjataan modern.

Ya?

Serentetan gelombang suara dahsyat yang makin lama makin meninggi terdengar dari alat pengeras suara yang menempel di tape-recorder. Menangkan perang, stabilisasi lewat destabilisasi, bangun satu rezim yang cinta perdamaian dan keadilan!

Ketika itu, setiap berlangsung konferensi-konferensi pers, endapan panas keluar dari bawah lapisan kulit tubuhnya. Sorotan mata para interogatornya seakan merenggut jaringan dagingnya hingga melepuh. Dan kemudian?

Tak seorang pun yang kini mendatanginya. Semua tirai tertutup bagi siapa saja. Menelan. Ketika itu, saya menyaksikan para pengungsi lelaki ditangkap di perbatasan, diseret dalam keadaan kelaparan. Saya menyaksikan bagaimana mereka diperlakukan. Mereka dipaksa bergabung, atau dibiarkan mati di perbatasan. Perkampungan mereka di bakar, keluarga mereka dibabat habis—nah, kau lihat di wajah dan tubuh mereka, semua itu benar-benar terjadi… gara-gara kesalahan informasi. Juga tak disinggung soal basis itu. Sekutu-sekutu kami, di tiap jamuan makan yang mereka suguhkan—lengkap dengan aneka hidangan, anggur, apa saja yang terbaik, dan diperlakukan sebagai orang sangat penting—tak pernah menyinggung perbuatan-perbuatan kejam itu. Betul… saya dibawa keliling, melihat ….semuanya. Stasiun radio rahasia yang menyiarkan suara organisasi kami. Senjata-senjata mutakhir disediakan untuk kami. Sepatu-sepatu bot dan seragam-seragam dibuat di pabrik-pabrik mereka. (Pasti perlengkapan ranjau juga berasal dari pabrik itu). Pesawat-pesawat lepas landas pada malam hari, mengangkut pasukan kami, dipersenjatai dan  diperlengkapi untuk melakukan apa yang sudah mereka peroleh dalam latihan. Saya tahu sekarang, apa maksud latihan itu.

Ya?

Pasti itulah perang…..

Jadi?

…. Perang itu tidak baik. Mendorong kebrutalan dua pihak yang terlibat. Saya harus menyadarinya. Berusaha. Tapi pada malam hari pesawat-pesawat itu muncul lagi menyeberangi perbatasan. Tidak kosong. Menurut perkiraanku, pesawat-pesawat itu mengangkut pengungsi anak-anak untuk dihindarkan dari pertempuran; anak-anak perempuan berusia dua belas atau tiga belas tahun, ketakutan, dipisah satu sama lain untuk memaksa mereka berjalan. Mereka disodorkan pada anggota-anggota pasukan yang mendapat latihan. Prajurit-prajurit yang sudah lama tidak melihat perempuan; untuk pemuas nafsu mereka. Selesai makan malam, satu dari anak perempuan itu ditawarkan komandan padaku. Sebelumnya ia sudah membimbing masuk seorang anak perempuan lain untuk dirinya sendiri. Ia menanggalkan pakaian anak itu, mempertontonkannya di hadapanku.

Jadi, ya, saya tahu apa yang terjadi atas anak-anak perempuan itu. Saya tahu, pasukan kami sudah menjadi—mungkin dari sananya memang sudah begitu—ya, apa yang Anda sebut gerombolan bengis yang membakar rumah sakit, memotong telinga penduduk desa, memerkosa, meledakkan gerbong-gerbong kereta berisi pekerja. Menghancurkan negeri ini, negeri kelahiran saya. Saat ini, negeri ini terbentang dengan hanya tirai-tirai itu ditarik masuk, negeri ini tetap terbentang diselimuti kegelapan dengan sebagian besar gedung-gedungnya gelap-gulita. Dengan jaringan jalan raya yang rusak dan alun-alun yang hancur dikelilingi lampu-lampu redup. Negeri yang akrab dengan saya, yang harus diakui saya sangat mengenalnya, yang tak bisa diingkari bahwa saya memang memahaminya. Negeri yang tetap terbentang, bersama matahari yang menerobos jendela, yang penduduknya menjadi pengemis hidup di jalanan, tinggal di gubuk-gubuk dan tenda-tenda, jauh dari apa yang tadinya adalah apartemen-apartemen kami—kaum kulit putih—tanpa penerangan listrik, tanpa air di kamar mandi, tanpa kaca di jendela-jendela; tapi saat ini, di balkon-balkon indah yang menghadap ke laut, balkon-balkon indah yang tadinya tempat kami—kaum kulit putih—mendapat hidangan-hidangan pembangkit selera, terlihat unggun-unggun kecil yang dibuat orang kulit hitam untuk memasak sisa-sisa makanan mereka.

Dan demikianlah akhirnya.

Namun negeri ini akan tetap terbentang. Tak akan lenyap. Hanya tape-reccorder itu yang senyap. Tak mampu menjelaskan bagaimana seseorang mulai benar-benar memahami. Bukan dengan mengandalkan jaringan intelijen lewat faksimil dan satelit.

***

KEMBALI ke kamar di Eropa tempo hari itu, yang dilengkapi peralatan telekomunikasi; di sana terdapat rekaman alamat perwakilan-perwakilan rezim kulit hitam di luar negeri. Suatu hari ia pergi ke salah satu alamat itu. Dalam penampilan lengkap sebagai tentara pemberontak, dengan berewok—sehingga mereka bisa menembaknya kalau mereka mau—agar mereka menyadari siapa dia dan apa yang diketahuinya. Bukan menyangkut kekejaman-kekejaman itu. Sesuatu yang lain; semua yang bisa ia tawarkan untuk mengubur pengetahuan tentang kekejaman-kekejaman itu; informasi lengkap mengenai pasukan pemberontak, para pemimpinnya, permusuhan di dalam, sekutu-sekutunya, sumber-sumber perbekalan, fungsi dan posisi yang pasti dari basis-basis rahasianya. Apa saja. Apa saja yang bisa ia tawarkan,  sebelumnya atau sudah sejak awal, lagi-lagi ia pasti disudutkan ke masalah terjun dengan parasut dan potret menara itu. Mereka tidak menembak. Mereka mengawalnya agar orang-orang dari markas besar telekomunikasi, di kamar yang dilengkapi jam antik itu, jangan sampai membunuhnya sebelumnya ia buka mulut. Mereka, orang-orang kulit hitam itu, menanganinya dengan hati-hati; ia adalah satu spesies aneh dan langka, ditangkap untuk diteliti. Mereka menyadari betapa berharganya ia, buat mereka.

Tanya-jawab mirip destabilisasi. Istilah itu tak menjelaskan metode dan pengalaman. Hari demi hari, bebas dari sepatu botnya, dari pakaian kerja, baret dan berewoknya, dari penerbangan-penerbangan kelas satu, dari rumah di Eropa, makan malam penuh penghormatan, dari prestise kenal dengan kalangan intelijen—dari kehidupannya. Ia sudah ditemukan terpuruk di kamar bekas hotel itu, duduk diam di satu kursi dalam ruang gelap, hanya lehernya yang terbuka yang berdenyut. Di tengah keheningan setelah musik di tape-recorder itu berhenti, mungkin saja ia merasakan mendengar suara semut-semut yang bergerak dalam garis iring-iringan yang tak berubah.

Sejak awal mereka maklum bisa memanfaatkan kehidupannya—nyawanya. Mereka belum menyediakan rumah yang dikelilingi taman itu, yang merupakan bagian dari transaksi. Atau mobil itu. Tentu ia bisa saja keluar. Pergi ke mana ia suka; hanya selama enam bulan pertama saja ia dibatasi. Mereka tahu, satu saat mereka bisa memercayainya, mereka toh tak lagi menaruh minat padanya. Sudah tak ada lagi yang mendorong mereka untuk mendatanginya. Ia sudah buka mulut membeberkan segalanya, ia sudah diperagakan, apa manfaat dirinya lagi buat mereka?

Mereka benar. Boleh jadi mereka tak akan mendatanginya lagi.

***

GADIS itu muncul dari kamar mandi; gadis itu tidur larut malam.

Ada seorang gadis menginap di bekas hotel itu. Bukan mereka yang menyediakannya. Tapi mungkin juga sebaliknya; gadis itu sudah ada di ruang tunggu dokter ketika ia, dalam pengawalan, pergi berobat ke dokter itu. Dengan sopan ia menyilakan gadis itu diperiksa lebih dulu, dan ketika gadis itu keluar dari kamar periksa, mereka berbincang-bincang. Saya nggak ngerti bagaimana mungkin saya mematuhi diet ini, ujar si gadis, bagaimana mungkin Anda bisa berbelanja kalau Anda tidak memiliki mata uang asing, Anda tahu kan, tinggal di negeri ini.

Ya—untuk pertama kali ia menyadari: ia tinggal di negeri ini. Mungkinkah ia bisa memperoleh apa yang dibutuhkan gadis itu? Si gadis tidak menanyakannya; cara memperoleh mata uang asing tidak cocok untuk bahan pembicaraan.

Gadis itu berada di kamar tidur sepanjang pagi, seakan-akan kamar itu tak berpenghuni. Sekarang, kamar bercahaya temaram itu malah menambah parah kesantaiannya, tak peduli siang atau malam. Kakinya yang merah-jambu dengan jemari mirip palu menyeret di lantai; gadis itu mendecak dengan lidah diadu ke langit-langit. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menahannya, kemudian mengembuskannya; soalnya, si pemuda membisu terus.

Jadi Anda tak mau makan?

Gadis itu mengangkat piring penutup dan menyentuh gundukan kuning telur dengan telunjuknya; permukaan yang membeku itu melekuk licin. Gadis itu mengelap jarinya ke T-shirt-nya sendiri yang juga adalah gaun malamnya. Seranting tanaman dalam rumah, yang sebelumnya ia bawa dan dimasukkan dalam gelas, telah terpajang suatu saat di atas meja dan ia membiarkannya tetap di situ; dalam air keruh, kamar gelap, tanaman itu mengeluarkan benang akar yang lentur dan mengambang. Saat ini semut-semut sibuk beriring-iringan di bibir gelas. Bau samar dadih susu dari cairan gadis itu mengambang, dan air mani si pemuda keluar ketika gadis itu membungkuk mengikuti iring-iringan semut di lantai. Sesudah si pemuda selesai, gadis itu berkata: Anda tidak mencintaiku.

Si pemuda dikecam oleh si gadis karena menonton adegan si komandan dengan anak perempuan berusia dua belas tahun itu.

Kemudian si gadis mendengar sesuatu yang  sulit dipercaya. Pemuda itu terisak-isak. Si gadis menjauh ke tepi ranjang karena takut dan jijik.

Si gadis mondar-mandir di kamar itu, di belakang pemuda itu, pagi ini, karena si pemuda tak mau bicara.

Kenapa kita tidak ke pantai? Ayo, berenang. Saya suka kepantai, menyantap udang-udang. Kita bisa naik bis. Pantainya ada yang bagus….murah. Atau Anda tak suka berenang. Saya ingin sekali menyelam ke dalam air …. ayo dong.

Si gadis menunggu dengan sabar.

Sudahkah pemuda itu menggelengkan kepalanya? Ada gerakan halus di kepala itu. Tak ada alasan bagi si gadis untuk tetap terkurung di kamar, untuk terus menunggu kalau-kalau si pemuda menerima permintaan maafnya, memaklumi pengertiannya yang sederhana tentang fungsinya sebagai wanita. Beberapa menit kemudian, si gadis kembali ke kamar mandi dan ketika keluar, ia sudah bersalin pakaian.

Saya pergi. Pokoknya: mau berenang.

Kali ini si pemuda mengangguk dan memiringkan badan meraih sebatang rokok.

Gadis itu belum juga membuka pintu. Gadis itu ragu-ragu, tampaknya menimbang-nimbang apakah ia harus membuat suatu gerakan, entah apa, boleh jadi menghampiri pemuda itu dan menyentuh rambutnya.

Si gadis pergi.

Setelah pernapasan dan tubuhnya disusupi asap rokok yang diisapnya, si pemuda bangkit, pergi ke jendela. Ditariknya tirai-tirai ke samping kiri dan kanan. Tirai-tirai itu terpanggang, pudar, hangus. Dan kini ia tak terlindungi: tampak sorot cemerlang kota yang makin kere itu, kota centang-prenang, yang tak menyediakan perlindungan bagi kehidupan, orang-orang lanjut usia bersandar di tembok depan gedung-gedung kosong, menunggu ajal, anak-anak yatim lari berkelompok-kelompok mengerubungi tumpukan-tumpukan sampah, para lelaki tanpa telinga dan wanita berlengan buntung yang sebelumnya bertangan utuh, pekik teriakan mereka membubung ke arahnya, melampaui enam tingkat bangunan bekas hotel yang disoroti sinar matahari itu. Ia tak bisa keluar, karena mereka, penduduk kota itu, mengepungnya.

Terjun. Kedua lutut melentur saat membentur bumi, ada gedebuk keras menghantam telinga, dan parasut pun tenggelam bagai tumpukan sutra.

Ia tegak, tapi kemudian kembali ke kamar.

Jangan sekarang; belum.

 

Nadine Gordimer (Nobel Prize for Literature 1991)

Lahir di Transvaal, Johannesburg, Afrika Selatan tahun 1923. Gordimer banyak disebut sebagai salah satu pengarang terkemuka Afrika Selatan yang secara tajam mengungkapkan kekerasan ras di negeri itu selama lebih dari 30 tahun, lewat karya-karyanya yang ditulis dengan teknik yang rumit. Gordimer lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga banyak menulis cerita pendek. Ia terutama dikenal lewat karyanya A Sport of Nature (1952), A Quest of Honour (1970), The Conservationist (1974), Burger’s Daughter (1979), dan July’s People (1981). Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Gordimer sebagai pengakuan untuk: “…kecemerlangan tulisan epiknya yang telah memberi sumbangan besar pada kemanusiaan….” Gordimer adalah sastrawan pertama Afrika Selatan yang memperoleh penghargaan tersebut, sekaligus wanita ketujuh setelah Nelly Sachs (Nobel Prize for Literature 1966) menerimanya hampir 25 tahun lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Check Also

1 emma-watson_topengkayu

Selain Aktris, Emma Watson ternyata kutu buku dan…

Ternyata Emma Watson bukan sekadar aktris. Ya, memang sih gadis asal Inggris kelahiran 15 April …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *