Download Free FREE High-quality Joomla! Designs • Premium Joomla 3 Templates BIGtheme.net
Diskon!
598

Seperti Para Penyair

Rp 55.000,00 Rp 50.000,00

Dalam sajak Seperti Para Penyair yang dipilih sebagai judul antologi ini, Sabiq membangun sebuah karakter yang ia sebut dengan “tuan bagi kesepian sendiri.” Sekali lagi saya ingin mengandaikan kalimat itu sebagai kerinduan penyair pada kesendirian yang diringkus oleh rupa-rupa keramaian realitas dunia mutakhir. Bila dalam keramaian bahasa menjadi budak yang senantiasa diperdaya, maka di ruang-ruang kesendirian ia hendak dikembalikan menjadi tuan dan majikan. Di sinilah barangkali tugas berat puisi dalam rimba raya keramaian kontemporer.Dengan segenap daya upaya, penyair membebaskannya, menyelamatkannya dari etos ketertindasan yang tak kasat.  Ikhtiar semacam itu saya jumpai dalam sajak-sajak seperti Elegi Sepi, Elegi Hening, Rajawali Musim Sepi, Kursi-kursi Mati Sunyi, dan beberapa sajak lainnya.

 

Komentar

 

“Di antara semburan kata-kata, kita menemukan kristal-kristal puisi yang mewujud secara visual, bergaung dalam lantunan bunyi, atau membangunkan ingatan  akan pergumulan kita sehari-hari di ruang kota.  Pembaca dipersilakan memungut kristal-kristal puisi itu dari kumpulan antologi Sabiq Carebesth, dan memilikinya.”

 

  • Melani Budianta, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

 

“Sebab waktu, kita tak pernah selesai memahami rindu dan cinta. Untuk menyeberangi memori masa lalu, masa kini, dan mungkin juga di masa depan. Itulah pesan dari puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini. Bahwa perjalanan hidup manusia, pada akhirnya juga akan menjadi debu. Menjadi satu dengan waktu.”

 

  • Hamdy Salad, penyair, dosen Agama dan Budaya Islam di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta

 

“Kerinduan, kenangan, nostalgia dan hubungan antara sesama adalah komponen-komponen yang kuat dalam kumpulan sajak ini. Ada romantisme dalam yang melekat dalam narasi Sabiq, ini mengingatkan saya dengan suatu kebutuhan kuat untuk merasa hidup.”

 

  • Kinez Riza, Artist, Photographer, Filmmaker

 

“Lahirnya antologi puisi kedua Sabiq Carebesth, “Seperti Para Penyair”, bukan kebetulan belaka. Karena sejak kuliah di Yogya, telah menunjukkan bahwa dirinya adalah tunas kepenyairan baru pada zamannya. Dan benar, tunas itu kini tumbuh mekar di kawasan yang bernama Jakarta. Sebagai antologi yang mungkin akan dijadikan kenangan penanda ulang tahunnya yang ke-31, 10 Agustus 1985, catatannya adalah:  puisi itu mirip sedekah dari seorang penyair untuk kemanusiaan. Jadi, menerbitkan antologi puisi sama halnya seorang petani yang menanam sebutir biji padi dan memeliharanya dengan kejujuran yang bersumber pada hati nurani.”

  • Iman Budhi Santosa, penyair tinggal di Yogyakarta

 

Stok 27

Email

Informasi Tambahan

Seperti Para Penyair

Penulis : Sabiq Carebesth
Penerbit : Keoekoesan & Galeri Buku Jakarta
Halaman: 115
ISBN : 978-979-1442-84-8
Ukuran: 11 cm x 18 cm
Terbit: Juni 2017

Ulasan

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Seperti Para Penyair”