Download Free FREE High-quality Joomla! Designs • Premium Joomla 3 Templates BIGtheme.net
Home / Intermezzo / Sekilas Cerita Nyai Dasima (G. Francis,1896)

Sekilas Cerita Nyai Dasima (G. Francis,1896)

Batavia Tahun 1813

Di Tanah Curuk, Tanggerang, tinggalah seorang ingggris bernama Edwrd W. Ia mempunyai seorang nyai bernama Dasima. Delapan tahun sudah mereka hidup bersama dan mempunyai seorang anak perempuan bernama Nanci. Hidup Nyai Dasima sangat kecukupan karena tuan Edward W memang sayang pada nyainya. Banyak pelayan yang mengabdi di rumah itu, dan nyai Dasima dilayani segala keperluannya.

Di kampung Pejambon tinggal seorang tukang tadah bernama Samiun. Ia hidup bersama istrinya Hayati, dan mertuanya Saleha. Samiun jatuh hati pada Dasima. Lalu ia mencari akal bagaimana ia dapat memperistri nyai Dasima. Samiun mengutus seorang perempuan tua bernama Ma Buyung bertandang ke rumah Dasima. Ma Buyung, berdsarkan saran Samiun, mengetakan kepada Dasima, bahwa tidak cukup orang hidup penuh kesejahteraan di dunia tetapi tidak selamat di akherat. Ma Buyung mengatakan banhwa Nyai Dasima harus menjalankan agamanya, dan hidup sebagai nyai seorang kafir tidak akan menyelamatkan hidupnya.

Setelah kunjungan Ma Buyung itu, hati nyai Dasima jadi gundah. Menyadari hal ini, maka nyai Dasima meminta kepada Buyung agar mau mengirimkan orang yang mau mempelajarkan agama Islam kepadanya. Maka Samiun mengirimkan isterinya, Hayati, dan mertunaya, Saleha, untuk mengjari agama Islam kepada Dasima. Setelah belajar agama beberapa lamanya, maka nyai Dasima mendengar dari dua gurunya itu bahwa bahwa samiun sebenarnya jatuh cinta kepadanya dan tak dapat tidur serta tak mau makan dan minum. Kalau nyai Dasima mau bercerai dari tuan W maka Samiun bersedia menikahinya dan akan diajak ibadah haji. Nyai Dasima yang sudah mulai memebenci tuan W, Menyanggupi untuk bercerai dari tuan W.

Tuan W sangat heran dan terkejut ketiak nyai Dasima minta cerai. Karena tak dapat lagi disadarkan, maka akhirnya didatangkan notaris untuk mengurus percerainya. Tuan W yang masih sangat mencintai nyai Dasimamemberikan harta kekayaan yang berharga 6000 gulden kepadanya, tetapi anak mereka, Nanci, tetap ikut bapakanya.

Setelah selesai mengurus perceraiannya, nyai Dasima kemudian langsung menyewa kereta dan menuju rumah Samiun. Tak lama kemudian dilangsungkanlah pernikahan antara Samiun dan nyai Dasima. Nyai Dasima tetap hidup di rumah Samiun bersama nyonya Hayati dan ibunya Saleha.

Ternyata kemudian bahwa kehidupan Dasima disia-siakan. Ia dicemburui Hayati, dimarahi oleh Saleha dan diperlakukan lebih rendah dari pebantu mereka yang bernama Kuntum. Maka sadarlah nyai Dasima bahwa ia telah diperalat oleh Samiun untuk mendapatkan harta tuan W. Menyadari hal itu nyai Dasima memberanikan diri minta cerai dari Samiun dan berniat pulang ke kampungnya sendiri di Kuripan. Samiun membujuk agar Dasima bersabar dahulu. Ia akan menepati janjinya dahulu, yakni menceraiakn istri pertamanya, Hayati. Hanya menunggu kesalahan Hayati saja. Namun nyai Dasima tetap ngotot ingin bercerai, kalau tidak diberikan ia akan menghadap notaris. Mendengar ini Samiun menjadi kaget. Kemudian diambilnya keputusan bahwa Dasima harus dihabisi Jiwanya. Menahan Dasima terlalu lama akan melibatkan tangan hukum mengorek kejahatan-kejahatannya.

Samiun kemudian mendatangi seorang pembunuh bernama Si Poasa yang tinggal dikampung Kwitang. Poasa menyanggupi membunuh Dasima asal bayarannya lebih tinggi, sebab ia tak biasa membunuh perempuan. Sebelumnya Poasa juga memperingatkan Samiun bahwa istrinya sangat cantik, apakah kelak ia tidak akan menyesal. Samiun pada pendiriannya.

Pada malam itu juga Samiun mengjak nyai Dasima memenuhi undangan ke kampung Ketapang untuk mendengarkan orang membaca hikayat Amir Hamzah. Kepergian Samiun disertai Poasa dan pelayannya, Kuntum, yang bertugas membawa obor. Tiba di tepi kali dekat rumah Musanip, Dasima dupul kepalanya oleh Poasa. Kebetulan dua anak Musanip sedang memancing ikan tak jauh dari tempat pembunuhan itu. Mereka gemeteran. Juga Kuntum gemeteran. Samiun mengancam Kuntum agar tidak membuka mulut kalau tak mau diperlakukan seperti Dasima. Mayat Dasima kemudian dibuang ke kali, agar dimakan buaya dan ikan.

Pagi harinya mayat Dasima ditemukan tersangkut dibelakang rumah tuan W. Maka segera dipanggilnya polisi dan segera diusut perkara pembunuhan keji itu. Berdasarkan kesaksian kedua anak Musanip dan kesaksian Kuntum, maka diketahuinyalah pelaku-pelaku pembunuhan. Si Poasa dengan mudah diringkus karena sedang ketiduran akibat mabuk, sedang Samiun berhasil melarikan diri ke hutan. Tetapi tak lama kemudian dapat ditangkap. (*)

 

About sabiqcarebesth

Sabiq Carebesth, pecinta buku dan kesenian. Pengarang "Memoar Kehilangan" (2011). Menulis puisi, esai dan artikel populer di berbagai media dan Koran nasional. Pendiri dan redaktur utama Galeri Buku Jakarta. Twitter: @sabiqcarebesth. Email: sabiqcarebesth@gmail.com

Check Also

theculturetrip.com

Cerpen Hermann Hesse: Untuk Nona Gertrud

Dalam kamar terpencil di puriku, di bawah naungan jendela sempit, kau sering duduk, kau, yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *