Download Free FREE High-quality Joomla! Designs • Premium Joomla 3 Templates BIGtheme.net
Home / Intermezzo / Seperti Para Penyair: Puisi yang Lenyap di Belantara Bising
9fybtvfnseoxoggzivhj_img_2226

Seperti Para Penyair: Puisi yang Lenyap di Belantara Bising

Buku kumpulan sajak terbaru Sabiq Carebesth telah dirilis pada Juni tahun ini dengan judul utama “Seperti Para Penyair”. Melani Budianta, Kinez Riza, Hamdy Salad, dan Iman Budi Santosa tak kurang memberi tanggapan dan komentar.

“Di antara semburan kata-kata, kita menemukan kristal-kristal puisi yang mewujud secara visual, bergaung dalam lantunan bunyi, atau membangunkan ingatan  akan pergumulan kita sehari-hari di ruang kota.  Pembaca dipersilakan memungut kristal-kristal puisi itu dari kumpulan antologi Sabiq Carebesth, dan memilikinya.” Tulisa melani Budianta, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sementara Kinez Riza, seorang artist, photographer, filmmaker menyebut puisi sabiq mengingatkannya akan kebutuhan pada hidup.

“Kerinduan, kenangan, nostalgia dan hubungan antara sesama adalah komponen-komponen yang kuat dalam kumpulan sajak ini. Ada romantisme dalam yang melekat dalam narasi Sabiq, ini mengingatkan saya dengan suatu kebutuhan kuat untuk merasa hidup.” Ujar Kinez memberi Komentar.

Damhuri Muhammad, esais dan cerpenis yang memberikan epilog untuk buku “Seperti Para Penyair” ini menyebut puisi-puisi sabiq sebagai ‘puisi yang lenyap di belantara yang bising’.

“Saya mengenal Sabiq bukan sekadar pribadi yang menggemari puisi, tapi juga personalitas yang hendak menghadirkan realitas puitik dalam kesehariannya. Betapa tidak? Ia bahkan memberi nama anaknya dengan Puisi, dan beberapa sajak dalam buku ini ia garap sebagai perbincangan imajiner dengan Puisi, putri kecilnya yang menggemaskan itu. Sabiq adalah pribadi yang gemar bersembunyi. Meskipun pada akhirnya saya berkesempatan memotret prosesi pernikahannya beberapa tahun lalu, tapi hingga kini saya tak pernah tahu di mana kampung halamannya, siapa bapak-ibunya, dan apa pekerjaannya. Ia kerap muncul tiba-tiba, menghilang beberapa lama, lalu datang lagi dengan membawa sekian banyak rencana, tapi ujung-ujungnya mengeluarkan draft buku puisi dari ranselnya. Ia selalu mengaku belum ada satu pun rencana yang pernah ia bincangkan itu terwujud, meskipun kegiatan menulis puisi tak kunjung berhenti. Pendeknya, Sabiq adalah teka-teki yang belum terpecahkan bagi saya hingga kini.” Demikian kata Damhuri seperti dikutip dalam epiloh buku ini.

598
Buku “Seperti Para Penyair”

“Sebab waktu, kita tak pernah selesai memahami rindu dan cinta. Untuk menyeberangi memori masa lalu, masa kini, dan mungkin juga di masa depan. Itulah pesan dari puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini. Bahwa perjalanan hidup manusia, pada akhirnya juga akan menjadi debu. Menjadi satu dengan waktu.” Demikian catatan Hamdy Salad, penyair, dosen Agama dan Budaya Islam di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta untuk kumpulan sajak yang ditulis dalam rentang tahun 2011-2016 tersebut.

Penyair senior Yogyakarta lainnya, Iman Budi Santosa juga mengapresiasi dengan nada sama. Menurutnya Sabiq tengah dalam perjalanan kepenyairan yang terus menjauh sejak ia memulainya semasa kuliah di Yogayakarta.

“Lahirnya antologi puisi kedua Sabiq Carebesth, ‘Seperti Para Penyair’, bukan kebetulan belaka. Karena sejak kuliah di Yogya, telah menunjukkan bahwa dirinya adalah tunas kepenyairan baru pada zamannya. Dan benar, tunas itu kini tumbuh mekar di kawasan yang bernama Jakarta.” ujar Iman Budi.

Sebagai penyair yang malang melintang dan telah mencecap begitu banyak karya penyair yang lebih muda, Iman tak lupa memberikan pesan mendalam untuk Sabiq. “Puisi itu mirip sedekah dari seorang penyair untuk kemanusiaan. Jadi, menerbitkan antologi puisi sama halnya seorang petani yang menanam sebutir biji padi dan memeliharanya dengan kejujuran yang bersumber pada hati nurani.” Pesan Iman.

Sepertinya nurani itu akan terus membuahkan buah hati dan kecemerlangan dalam karya yang layak kita petik dan miliki dari karya-karya Sabiq Carebesth. Selamat membaca… (*)

Pesan dan beli bukunya klik di sini ..

| Admin Topeng Kayu

 

Check Also

sekolah topeng kayu

Mas Marco Kartodikromo: Student Hidjo

(1919) Hidjo ialah anak keluarga Raden Potroonoyo, seorang bangsawan rendahan. Ia jatuh cinta dan bertunangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *